Senin, 08 November 2010

ASAL USUL KATA GAUL dan JARGON

1.Preman
Vrijman atau orang bebas masih saja jadi buah bibir hingga abad ke-21 ini. Tentu saja, banyak yang akan mengernyitkan kening mendengar kata itu. Vrijman kurang beken dibanding kata preman, bahasa Indonesia dari vrijman. Meski, memang, arti kata itu sendiri mengalami perubahan makna sejak masa VOC hingga zaman kiwari atawa modern ini. Vrijman pada awal abad ke-17 bermakna orang yang bukan pejabat VOC, tetapi melakukan negosiasi atas nama si pejabat. Intinya, kata preman punya arti orang merdeka, bebas, dan sangat terkait dengan prajurit dan polisi yang tidak memakai seragam, demikian ditulis Jerome Tadie dalam Wilayah Kekerasan di Jakarta.
Istilah preman dengan konotasi kriminal baru muncul pada akhir tahun 1970, yaitu dalam serial Ali Topan, Detektip Partikelir. Tadie, berdasarkan beberapa literatur dan ulasan media pada akhir 1970 dan awal 1980, menuliskan, organisasi Preman Sadar—organisasi keamanan—dibentuk dengan hanya merekrut preman dan mantan narapidana. Media pun makin bikin beken kata preman dan jadi hal yang biasa disebut dengan arti yang jauh dari arti sebenarnya. Karena preman kemudian bermakna penjahat, bandit, tukang palak, jambret, berandalan, gali, bahkan sampai ke pengamen jalanan yang lagaknya memeras penumpang di bus pun sering kali ditunjuk sebagai preman.
Pokoknya orang jahat; orang yang meminta uang tanpa kerja; orang yang menawarkan keamanan meski hanya ongkang-ongkang kaki, yang penting uang masuk kantong; orang yang meneror pihak lain. Preman tak lagi berarti prajurit dan polisi yang berpakaian sipil. Padahal, kenapa tidak kita sebut saja mereka bandit, tukang palak, berandalan. Lebih pantas karena intinya melawan hukum demi kepentingan diri dan kelompoknya. Sementara preman atau vrijman memang bukan kata yang merujuk pada kejahatan.

2.Jayus
Di akhir dekade 1990-an dan di awal abad 21, ucapan Jayus sangat populer. Kata ini artinya lawakan yang tidak lucu, garing atawa tingkah laku yang mau melucu tapi tidak lucu. Orang yang mengucapkan kata ini awalnya adalah kelompok anak SMA yang bergaul di sekitaran Kemang. Konon ada seseorang bernama Herman Setiabudhi, dia dipanggil teman-temannya Jayus karena bapaknya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Si Herman alias Jayus ini kalau melawak tidak pernah lucu.
Temannya yang bernama Sonny Hassan alias Oni Acan sering mengomentari tiap lawakan yang tidak lucu dengan celetukan Jayus. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti teman-teman setongkrongannya di daerah Sajam, Kemang, kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMA sekitar Melawai. Puncaknya pas ada acara PL Fair2000 kata-kata Jayus ini banyak di ucapkan.

3.Jaim
Ucapan Jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di sebuah departemen yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku. Pada suatu hari, Pak Pur, begitu dia sering dipanggil, berpidato di hadapan anak buahnya untuk Jaim. Inilah kutipan kata-katanya: “Saudara-saudara sebagai pegawai negeri kita harus Jaim. Apa itu Jaim? Jaim itu ya… Jaga Image.”
Itulah awal kata-kata Jaim populer, kemudian seorang anak buah Pak Pur, Bapak Dharmawan Sutanto, yang punya anak bernama Santi Indraswara pernah memarahi Santi agar tidak terlalu mengumbar diri di depan teman-teman cowoknya. “San, kamu kalau jadi cewek harus Jaim!” Santi bengong dengan muka begonia. Dia Tanya: “Pak, Jaim itu apa sih?” Pak Dhar langsung keluar kamar Santi, sembari ngomong, “Jaim itu Jaga Image.”
Nah, hari Seninnya Santi ikut upacara bendera di sekolah. Dia ditugasi jadi pembaca UUD 1945. Di akhir kata, dia tak sengaja mengucapkan, “Jaim doong…”
Kepala sekolahnya langsung menoleh ke Santi dan tanya, “Apa tuh Jaim?” Santi dengan santai menjawab, “Jaga Image, Pak.” Eh, si kepala sekolah dengan muka bego juga cuma bias berucap, “Ooohh…”

4.Nih Yee…
Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, kalau tidak salah tepatnya November 1985, pertama kali diucapkan oleh pelawak Diran, kemudian dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah.

5.Memble dan Kece
Istilah ini ciptaan khas Jaja Mihardja di tahun 1986, kemudian dimainkan dalam film Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja sendiri dan Dorce Gamalama.

6.Booo…
Ucapan ini populer dipertengahan awal 1990-an, pertama dipoplerkan oleh grup GSP. Kalau tidak salah yang pertama kali mengucapkan itu Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan, kemudian kata-kata ini dipopulerkan oleh grup Lenong Rumpi. Kata ini populer dalam lingkungan pergaulan artis, Titi DJ-lah orang yang benar-benar memopulerkannya.

7.Nek…
Setelah kata-kata Boo, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek. Bagi generasi yang SMA- nya di pertengahan 1990-an pasti mengalami bagaimana populernya kata-kata ini. Ucapan Nek pertama kali diucapkan oleh Budi Hartadi, seorang remaja di kawasan Kebayoran yang tinggal sama neneknya, maka dia sering mengucapkan kata Nek. Kebetulan dia latah, sehingga setiap ngomong dia mengucapkan Nek… “Nek… eh lo mau ke menong Nek?” itu contohnya, si Budi ngomong ke temannya. Si Budi ini senang bergaul di kawasan Jalan Tjokroaminoto, Menteng. Nah, kebetulan ada banci menteng yang mendengar, kemudian si banci itu mengikuti kata-kata si Budi.

8.Gitu Loh (GL)
Kata GL pertama kali diucapkan oleh Gina Natasha, seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina ini punya kakak bernama Ronny Baskara, seorang pekerja event organizer. Nah, si Ronny ini punya teman kantor bernama Siska Utami. Pada suatu saat, Siska bertandang ke rumah Ronny. Begitu ketemu si Gina, Siska Tanya, “Kakakmu mana?” Si Gina menjawab, “Di kamar, Gitu Loooohhh!” Kemudian saat ditanya lagi, “Eh Gina kelas berapa?” Si Gina menjawab, “Kelas dua SMP Gitu looohhh.”
Sebagai tamu, Siska terus tanya ke Gina, “Kalau yang benerin genteng bocor siapa?” Gina menjawab, “Siapa aja Gitu Looohhh.” Sampai sebelas pertanyaan selanjutnya si Gina menjawab dengan kata-kata Gitu Looohh.
Esoknya Siska di kantor ikut-ikutan latah dia mengucapkan kata Gitu Loooohhh di tiap akhir dia ngomong.

Referensi : http://www.modifikasi.com/showthread.php?t=35320

Tidak ada komentar:

Posting Komentar